Makalah Perundingan Dalam Komunikasi Bisnis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tanpa kita sadari, setiap hari kita sesungguhnya selalu melaksanakan negosiasi. Negosiasi yaitu sesuatu yang kita lakukan setiap dikala dan terjadi hampir di setiap aspek kehidupan kita. Selain itu perundingan yaitu cara yang paling efektif untuk mengatasi dan menuntaskan konflik atau perbedaan kepentingan. 

Negosiasi diharapkan dalam kehidupan insan alasannya yaitu sifatnya yang begitu erat dengan filosofi kehidupan insan dimana setiap insan mempunyai sifat dasar untuk mempertahankan kepentingannya, disatu sisi insan lain juga mempunyai kepentingan. Padahal, kedua pihak tersebut mempunyai suatu tujuan yang sama, yaitu memenuhi kepentingan dan kebutuhannya. Apabila terjadi benturan kepentingan terhadap suatu hal, maka timbullah suatu sengketa. Dalam penyelesaian sengketa dikenal aneka macam macam cara, salah satunya negoisasi. 

Kita memperoleh apa yang kita inginkan melalui negosiasi. Mulai dari berdiri pagi, mungkin kita harus mengambil janji siapa yang harus memakai kamar mandi terlebih dahulu, kemudian apakah sopir harus mengantar isteri anda atau anda terlebih dahulu. Demikian pula di kantor contohnya kita melaksanakan perundingan dalam rapat direksi, rapat staf, bahkan untuk memilih di mana akan makan siang kita harus bernegosiasi dengan rekan sekerja kita, bahkan untuk pergi kuliah pun, kita akan bernegosiasi pada diri sendiri mengenai baju apa yang akan kita kenakan. Makara kita semua intinya yaitu negosiator. Beberapa dari kita melakukannya dengan baik, sedangkan sebagian lagi tidak pernah memenangkan negosiasi. Sebagian kita hanya menjadi pengikut atau selalu mengikuti dan mengakomodasi kepentingan orang lain.

Negosiasi dilakukan oleh semua insan yang berinteraksi dengan insan lainnya. Mulai dari anak kecil hingga orang tua, semua lapisan dari kalangan sosial terbawah hingga dengan kaum elit di kalangan atas. Negosiasi dilakukan mulai dari rumah, sekolah, kantor, dan semua aspek kehidupan kita. Oleh alasannya yaitu itu penting bagi kita dalam rangka membuatkan dan mengelola diri (manajemen diri), untuk sanggup memahami dasar-dasar, prinsip dan teknik-teknik bernegosiasi sehingga kita sanggup melaksanakan perundingan serta membangun kekerabatan yang jauh lebih efektif dan lebih baik dengan siapa saja.

1.2 Tujuan Penulisan 
Supaya mahasiswa sanggup mengetahui dan mempelajari lebih jauh perihal negoisasi, seluruh aspek yang mendampinginya sehingga sanggup diimplementasikan kedunia nyata. Mencari solusi, berfikir krisis dan bertindak aktif sedini mungkin. Diharapkan pula makalah ini sanggup menjadi teladan berguru dalam mempelajari Negoisasi di Perguruan Tinggi.
1.3 Rumusan Masalah 
Adapun makalah ini dibentuk dengan rumusan masalah :
1.Negoisasi dan cakupannya?
2.Proses Negoisasi?
3.Manajemen Konflik?    
4.Negoisasi dengan hati? 


BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

2.1. Negoisasi dan Cakupannya  

a. Pengertian Negoisasi
Salah satu keterampilan komunikasi yang seringkali kita laksanakan yaitu negosiasi. Negosiasi sanggup terjadi setiap hari antar anggota keluarga, di toko, kampus atau di daerah kerja. Secara sederhana perundingan terjadi bila orang lain mempunyai apa yang kita inginkan dan kita bersedia menukarnya dengan apa yang diinginkan mereka. Negosiasi yaitu ketrampilan yang bisa dipelajari dan dilatih
Negoisasi merupakan kosakata yang sering kita dengar. Negoisasi merupakan proses yang sering sekali kita lakukan dalam hidup dan sering pula kita tidak sadar kalau kita tengah melaksanakan negoisasi. Untuk itu perlu terlebih dahulu dijelasakan pengertian negoisasi. Negoisasi dipahami sebagai sebuah proses dimana terdapat pihak ingin menuntaskan permasalahan, melakuakan suatu persetujuan untuk melaksanakan suatu perbuatan, melaksanakan penawaran untuk mendapatkan laba tertentu, dan atau berusaha menuntaskan permasalahan untuk keutungan tertentu (win-win solution). Negoisasi biasa dikenal sebagai salah satu bentuk alternatif dispute resulation.

Dengan demikian, secara sederhana sanggup disimpulkan negoisasi yaitu satu cara antara dua orang atau lebih yang berbeda kepentingan baik itu berupa pendapat, pendirian, maksud atau tujuan dalam mencari kesepahaman dengan cara mempertemukan penawaran dan seruan dari masing-masing pihak sehingga tercapai suatu janji atau kesepahaman kepentingan baik itu berupa pendapat, pendirian, maksud atau tujuan (mencapai janji bersama). 

b. Karakteristik Negoisasi
  1. Senantiasa melibatkan orang baik sebagai individual, perwakilan organisasi atau perusahaan, sendiri atau dalam kelompok,
  2. Memiliki bahaya terjadinya atau di dalamnya mengandung konflik yang terjadi mulai dari awal hingga terjadi janji dalam simpulan negosiasi,
  3. Menggunakan cara-cara pertukaran sesuatu baik berupa tawar menawar (bargain) maupun tukar menukar (barter),
  4. Hampir selalu berbentuk tatap-muka yang memakai bahasa lisan, gerak badan maupun ekspresi,
  5. Negosiasi biasanya menyangkut hal-hal di masa depan atau sesuatu yang belum terjadi dan kita inginkan terjadi,

c. 4 Prinsip Negoisasi
1.Memisahkan perasaan pribadi dengan masalah yang sedang dihadapi,
2.Berfokus pada kepentingan bukan pada posisi,
3.Mengumpulkan beberapa pilihan sebelum membuat keputusan akhir,
4.Kharismatik, vokal yang terdengar meyakinkan pada dikala negoisasi.

d. Kemampuan Bernegoisasi
Meskipun secara lahiriah insan telah dibekali dengan kemampuan untuk bernegosiasi, namun untuk sanggup bernegoisiasi dengan baik, kemampuan dasar tersebut pelu dikembangkan. Adapun, beberapa kemampuan dasar untuk sanggup bernegosiasi yang baik adalah: 

1.Kemampuan memilih serangkaian tujuan, namun tetap fleksibel dengan sebagian diantaranya. Selain harus mampul mempertahankan serangkaian tujuan, dalam organisasi, seorang negosiator harus bisa bersikap fleksibel dalam membaca keseimbangan atau perubahan posisi tawar yang terjadi selama negosiasi,

2.Kemampuan untuk mencari kemungkinan-kemungkinan dari pilihan yang banyak. Dalam hal ini, seorang megosiator harus jeli membaca kemungkinan dan memprediksi konsekuensi yang mungkin timbul dari masing-masing pilihan. Sebaiknya seorang negosiator sudah harus bisa memprediksi kemungkinan terbaik dan terburuk yang mungkin timbul,

3.Kemampuan untuk mempersiapkan dengan baik. Tidak ada perundingan yang baik tanpa persiapan yang baik. Negosiator ulung selalu mempersiapkan segala sesuaatu, mulai dari hal besar hingga hal kecil jauh sebelum pelaksanaan negosiasi. Namun, tak jarang seorang negosiator harus bisa melaksanakan perundingan pada dikala yang tidak terduga,

4.Kompetensi interaktif, yaiut bisa mendengarkan dan menanyakan pihak-piahk lain. Menjawab lebih gampang dari memperlihatkan pertanyaan yang baik, alasannya yaitu setiap jawaban lahir alasannya yaitu ada pertanyaan. Tanpa adanya pertanyaan yang baik, jawaban yang baik tidak bisa diharapkan,

5.Kemampuan memilih prioritas. Dalam negosiasi, segala hal yang dinegosiasikan yaitu penting, hanya saja seorang negosiator harus bisa memperlihatkan prioritas kepada permasalahan yang ada, hingga tersusun dalam tingkatan prioritas.

Dengan mempunyai kemampuan dasar tersebut, diharapkan negosiator sudah mempunyai dasar fatwa dan kemampuan untuk bernegosiasi. Selanjutnya, selain kemampuan dasar tersebut, seorang negosiator harus mempunyai kemampuan berbicara (retorika) dan kemampuan memimpin (leadership) serta administrasi yang baik semoga bisa menetukan alur perundingan dan melangsungkan perundingan hingga tujuan tercapai. 

e. Dua Jenis Negosiator

1.Value Claimers
Memandang perundingan sebagai proses pertikaian.  Masing-masing pihak berusaha mendapatkan sebanyak mungkin jatah atau kemenangan dan memperlihatkan sesedikit mungkin jatah atau kemenangan bagi lawannya. 

2.Value Creators
Mengutamakan proses yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Mencoba untuk membuat nilai tambah bagi kedua belah pihak yang bernegosiasi. 

f. Cakupan Negoisasi
Dalam konteks organisasi, perundingan sanggup terjadi:

1.Antara dua orang 
misal: pada dikala manajer dan bawahannya tetapkan tanggal penyelesaian proyek yang harus diselesaikan oleh bawahan,

2.Dalam kelompok
misal: untuk mengambil keputusan kelompok atas suatu kasus,

3.Antar kelompok
Misal: bab pembelian dengan pemasok dalam janji harga, kualitas atau tanggal penyerahan barang.

g. Unsur-unsur Negosiasi
  1. Ketergantungan dalam suatu tingkatan, antara pihak pihak yang terlibat,
  2. Ketidaksepakatan atau konflik (baik konflik positif atau yang tersembunyi),
  3. Interaksi yang oportunistik (setiap pihak punya harapan untuk berusaha menghipnotis orang lain),
  4. Kesepakatan.

h. Tujuan Negoisasi
  1. Tujuan bergairah - berusaha memperoleh laba dari kerugian (damage) pihak lawan,
  2. Tujuan kompetitif - berusaha memperoleh sesuatu yang lebih (getting more) dari pihak lawan,
  3. Tujuan kooperatif - berusaha memperoleh janji yang saling menguntungkan (mutual gain),
  4. Tujuan pemusatan diri - berusaha memperoleh laba tanpa memperhatikan penerimaan pihak lain,
  5. Tujuan defensif - berusaha memperoleh hasil dengan menghindari yang negatif,
  6. Tujuan kombinasi.


i. Gaya-gaya Negoisasi
Dalam gaya perundingan sanggup dijelaskan dalam dua dimensi, yaitu arah dan kekuatan:

1. Arah berbicara perihal cara kita menangani informasi.

a.Mendorong [push]
memberi informasi, mengajukan usul, melalaikan bantuan orang lain, mengkritik, bertindak sebagai pengganggu – semua taktik yang berlaku tergantung sifat dan konteks negosiasi.
b.Menarik [pull] 
mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan informasi, meminta saran, memastikan pemahaman, meminta kejelasan, menyatakan perasaan kita.

2.Kekuatan berbicara perihal keluwesan kita untuk beranjak dari kedudukan kita yangn semula.
a.Bersikap keras : kita ingin menang berapapun harganya, tidak akan menyerah atau mundur, tidak akan mendapatkan ajuan apapun, kita mengejar target yang tinggi.
b.Bersikap lunak : kita mengalah, ragu-ragu, sulit untuk berkata tidak, menyesuaikan diri 
sasaran yang kita kejar rendah. Kita sanggup mengambil sikap keras dalam beberapa masalah dan bersikap lunak dalam persoalan-persoalan yang lain : hal ini memperlihatkan petunjuk terang mengenai hasil yang menjadi prioritas.

j. Prasyarat Negoisasi Yang Efektif
Prasyarat Negoisasi yang Efektif
1.Kemauan (wilingness), mau menuntaskan masalah dan bernegoisasi secara sukarela
2.Kesiapan (preparedness), siap melaksanakan negoisasi,
3.Kewenangan (authoritative), mempunyai wewenang mengambil keputusan,
4.Keseimbangan kekkuatan (equal bargaining power), mempunyai kekuatan yang relatif seimbang sehingga sanggup membuat saling ketergantungan,
5.Keterlibatan seluruh pihak terkait (stakeholdership), pemberian seluruh pihak terkait dalam proses negoisasi,
6.Holistik (comprehensive), pembahasan permasalahan secara menyeluruh, 
7.Komunikasi dan rasa percaya antara sesama pihak masih ada,
8.Sengketa tidak terlalu pelik,
9.Tanpa prasangka, segala komunikasi atau diskusi dalam rangka menuntaskan sengketa tidak sanggup sebagai bukti.

2.2 Proses Negoisasi

Seperti proses dan teknik komunikasi yang lain, perundingan mengharuskan kita untuk mempersiapkan diri dari persiapan, pelaksanaan hingga bagaimana kita menutup proses tersebut. Persiapan dimulai dengan rencana – target simpulan dan taktik untuk mencapainya, tujuan yang diinginkan, persiapan diri, melihat posisi lawan komunikasi, pendekatan dan taktik yang tepat, dan suasana yang mendukung. Saat pelaksanaan negosiasi, membaca gejala nonverbal, membuat dan menanggapi usulan, memilih posisi kita,  dan menanggapi siasat yang diberikan lawan kita. Pada proses menutup negosiasi, bagaimana membahas konsesi dan posisi kita, cara menutup yang berkesan, mengatasi kemacetan dan menghasilkan sebuah hasil yang diharapkan bila tidak mencari solusi lain yang sempurna dan terakhir melaksanakan keputusan yang dibuat. Berikut akan dijelaskan mengenai proses negoisasi:

a.Langkah-langkah bernegoisasi
1.Persiapan
Langkah pertama dalam melaksanakan perundingan yaitu langkah persiapan. Persiapan yang baik merupakan fondasi yang kokoh bagi perundingan yang akan kita lakukan. Hal tersebut akan memperlihatkan rasa percaya diri yang kita butuhkan dalam melaksanakan negosiasi. Yang pertama harus kita lakukan dalam langkah persiapan yaitu memilih secara terang apa yang ingin kita capai dalam negosiasi. Tujuan ini harus terang dan terukur, sehingga kita bisa membangun ruang untuk bernegosiasi. Tanpa tujuan yang terukur, kita tidak mempunyai pegangan untuk melaksanakan tawar-menawar atau berkompromi dengan pihak lainnya. Hal kedua dalam persiapan perundingan yaitu kesiapan mental kita. Usahakan kita dalam kondisi relaks dan tidak tegang. Cara yang paling gampang yaitu dengan melaksanakan relaksasi. Bagi kita yang menguasai teknik pemrograman kembali bawah sadar (subconscious reprogramming) kita sanggup melaksanakan latihan perundingan dalam pikiran bawah sadar kita, sehingga sehabis melakukannya berkali-kali secara mental, kita menjadi lebih siap dan percaya diri.

2.Pembukaan
Mengawali sebuah perundingan tidaklah semudah yang kita bayangkan. Kita harus bisa membuat atmosfir atau suasana yang sempurna sebelum proses perundingan dimulai. Untuk mengawali sebuah perundingan dengan baik dan benar, kita perlu mempunyai rasa percaya diri, ketenangan, dan kejelasan dari tujuan kita melaksanakan negosiasi. Ada tiga sikap yang perlu kita kembangkan dalam mengawali perundingan yaitu: pleasant (menyenangkan), assertive (tegas, tidak plin-plan), dan firm (teguh dalam pendirian). Senyum juga salah satu hal yang kita perlukan dalam mengawali sebuah negosiasi, sehingga hal tersebut akan memperlihatkan perasaan nyaman dan terbuka bagi kedua pihak. Berikut ada beberapa tahapan dalam mengawali sebuah negosiasi:
  1. Jangan memegang apa pun di asisten anda ketika memasuki ruangan negosiasi;
  2. Ulurkan tangan untuk berjabat tangan terlebih dulu;
  3. Jabat tangan dengan tegas dan singkat;
  4. Berikan senyum dan katakan sesuatu yang pas untuk mengawali pembicaraan. 

Selanjutnya dalam pembicaraan awal, mulailah dengan membangun common ground, yaitu sesuatu yang menjadi kesamaan antar kedua pihak dan sanggup dijadikan landasan bahwa intinya selain mempunyai perbedaan, kedua pihak mempunyai beberapa kesamaan yang sanggup dijadikan dasar untuk membangun rasa percaya. 

3.Memulai proses negosiasi 
Langkah pertama dalam memulai proses perundingan yaitu memberikan (proposing) apa yang menjadi harapan atau tuntutan kita. Yang perlu diperhatikan dalam proses penyampaian tujuan kita tersebut adalah: 
  1. Tunggu dikala yang sempurna bagi kedua pihak untuk memulai pembicaraan pada materi pokok   negosiasi;
  2. Sampaikan pokok-pokok harapan atau tuntutan pihak anda secara jelas, singkat dan penuh percaya diri; 
  3. Tekankan bahwa anda atau organisasi anda berkeinginan untuk mencapai suatu janji dengan mereka
  4. Sediakan ruang untuk manuver atau tawar-menawar dalam negosiasi, jangan membuat hanya dua pilihan ya atau tidak;
  5. Sampaikan bahwa ”jika mereka memberi anda ini anda akan memberi mereka itu – if you’ll give us this, we’ll give you that.” Sehingga mereka mengerti dengan terang apa yang harus mereka berikan sebagai kompensasi dari apa yang akan kita berikan.
  6. Mendengarkan dengan efektif apa yang ditawarkan atau yang menjadi tuntutan pihak lain. Mendengar dengan efektif memerluka kebiasaan dan teknik-teknik tertentu. Seperti contohnya bagaimana mengartikan gerakan badan dan ekspresi wajah pembicara. Usahakan selalu membangun kontak mata dengan pembicara dan kita berada dalam kondisi yang relaks namun penuh perhatian.

4.Zona Tawar Menawar (The Bargaining Zone) 
Dalam proses inti dari negosiasi, yaitu proses tawar menawar, kita perlu mengetahui apa itu The Bargaining Zone (TBZ). TBZ yaitu suatu wilayah ruang yang dibatasi oleh harga penawaran pihak penjual (Seller’s Opening Price) dan Tawaran awal oleh pembeli (Buyer’s Opening Offer). Di antara kedua titik tersebut terdapat Buyer’s Ideal Offer, Buyer’s Realistic Price dan Buyer’s Highest Price pada sisi pembeli dan Seller’s Ideal Price, Seller’s Realistic Price dan Seller’s Lowest Price pada sisi pembeli. Kesepakatan kedua belah pihak yang paling baik yaitu terjadi di dalam wilayah yang disebut Final Offer Zone yang dibatasi oleh Seller’s Realistic Price dan Buyer’s Realistic Price. Biasanya janji terjadi ketika terdapat suatu overlap antara pembeli dan penjual dalam wilayah Final Offer Zone. 

5.Membangun Kesepakatan 
Babak terakhir dalam proses perundingan yaitu membangun janji dan menutup negosiasi. Ketika tercapai janji biasanya kedua pihak melaksanakan jabat tangan sebagai tanda bahwa janji (deal or agreement) telah dicapai dan kedua pihak mempunyai komitmen untuk melaksanakannya. Yang perlu kita ketahui dalam perundingan tidak akan pernah tercapai janji kalau semenjak awal masing-masing atau salah satu pihak tidak mempunyai niat untuk mencapai kesepakatan. Kesepakatan harus dibangun dari harapan atau niat dari kedua belah pihak, sehingga kita tidak bertepuk sebelah tangan.  Karena itu, penting sekali dalam awal-awal perundingan kita memahami dan mengetahui sikap dari pihak lain, melalui apa yang disampaikan secara lisan, bahasa gerak badan maupun ekspresi wajah. Karena bila semenjak awal salah satu pihak ada yang tidak mempunyai niat atau harapan untuk mencapai kesepakatan, maka hal tersebut berarti membuang waktu dan energi kita. Untuk itu perlu dicari jalan lain, ibarat misalnya: conciliation, mediation dan arbitration melalui pihak ketiga. 

2.3Manajemen Konflik

Karena setiap perundingan mempunyai potensi konflik dalam seluruh prosesnya, penting sekali bagi kita untuk memahami cara mengatasi atau menuntaskan konflik. Untuk menjelaskan aneka macam alternatif penyelesaian konflik dipandang dari sudut menang – kalah masing-masing pihak, ada empat kuadran administrasi konflik:

1.Kuadran Kalah-Kalah (Menghindari konflik)
Kuadran keempat ini menjelaskan cara mengatasi konflik dengan menghindari konflik dan mengabaikan masalah yang timbul. Atau bisa berarti bahwa kedua belah pihak tidak sepakat untuk menuntaskan konflik atau menemukan janji untuk mengatasi konflik tersebut. Kita tidak memaksakan harapan kita dan sebaliknya tidak terlalu menginginkan sesuatu yang dimiliki atau dikuasai pihak lain. Cara ini sebetulnya hanya bisa kita lakukan untuk potensi konflik yang ringan dan tidak terlalu penting. Makara semoga tidak menjadi beban dalam pikiran atau kehidupan kita, sebaiknya memang setiap potensi konflik harus sanggup segera diselesaikan.

2.Kuadran Menang-Kalah (Persaingan)
Kuadran kedua ini memastikan bahwa kita memenangkan konflik dan pihak lain kalah. Biasanya kita memakai kekuasaan atau dampak kita untuk memastikan bahwa dalam konflik tersebut kita yang keluar sebagai pemenangnya. Biasanya pihak yang kalah akan lebih mempersiapkan diri dalam pertemuan berikutnya, sehingga terjadilah suatu suasana persaingan atau kompetisi di antara kedua pihak. Gaya penyelesaian konflik ibarat ini sangat tidak mengenakkan bagi pihak yang merasa terpaksa harus berada dalam posisi kalah, sehingga sebaiknya hanya dipakai dalam keadaan terpaksa yang membutuhkan penyelesaian yang cepat dan tegas.

3.Kuadran Kalah-Menang (Mengakomodasi)
Agak berbeda dengan kuadran kedua, kuadran ketiga yaitu kita kalah – mereka menang ini berarti kita berada dalam posisi menyerah atau mengakomodasi kepentingan pihak lain. Gaya ini kita gunakan untuk menghindari kesulitan atau masalah yang lebih besar. Gaya ini juga merupakan upaya untuk mengurangi tingkat ketegangan tanggapan dari konflik tersebut atau membuat perdamaian yang kita inginkan. Mengalah dalam hal ini bukan berarti kita kalah, tetapi kita membuat suasana untuk memungkinkan penyelesaian yang paripurna terhadap konflik yang timbul antara kedua pihak. Mengalah mempunyai esensi kebesaran jiwa dan memberi kesempatan kepada pihak lain untuk juga mau mengakomodasi kepentingan kita sehingga selanjutnya kita bersama bisa menuju ke kuadran pertama.

4.Kuadran Menang-Menang (Kolaborasi)
Kuadran pertama ini disebut dengan gaya administrasi konflik kerja sama atau bekerja sama. Tujuan kita yaitu mengatasi konflik dengan membuat penyelesaian melalui konsensus atau janji bersama yang mengikat semua pihak yang bertikai. Proses ini biasanya yang paling usang memakan waktu alasannya yaitu harus sanggup mengakomodasi kedua kepentingan yang biasanya berada di kedua ujung ekstrim satu sama lainnya. Proses ini memerlukan komitmen yang besar dari kedua pihak untuk menyelesaikannya dan sanggup menumbuhkan korelasi jangka panjang yang kokoh . Secara sederhana proses ini sanggup dijelaskan bahwa masing-masing pihak memahami dengan sepenuhnya harapan atau tuntutan pihak lainnya dan berusaha dengan penuh komitmen untuk mencari titik temu kedua kepentingan tersebut.


2.4 Negoisasi Dengan Hati

Pada dasarnya perundingan yaitu cara bagaimana kita mengenali, mengelola dan mengendalikan emosi kita dan emosi pihak lain. Di sinilah seringkali banyak di antara kita tidak menyadari bahwa perundingan bahwasanya lebih banyak melibatkan apa yang ada di dalam hati atau jiwa seseorang. Ini ibarat citra sebuah gunung es, di mana puncak yang kelihatan merupakan hal-hal yang formal, tuntutan yang dinyatakan dengan jelas, kebijakan atau mekanisme perusahaan, maupun korelasi atau kekerabatan bisnis yang didasarkan pada hitungan untung rugi. 

Sedangkan yang sering dilupakan dalam proses perundingan yaitu hal-hal yang tidak kelihatan, ibarat contohnya hasrat, keinginan, perasaan, nilai-nilai maupun keyakinan yang dianut oleh individual yang terlibat dalam konflik atau yang terlibat dalam proses negosiasi. Hal-hal yang di dalam inilah justru seringkali menjadi kunci terciptanya perundingan yang sukses dan efektif.

Negosiasi bahwasanya melibatkan tiga hal pokok yang kami sebut sebagai Negotiation Triangle, yaitu terdiri dari HEART (yaitu abjad atau apa yang ada di dalam kita yang menjadi dasar dalam kita melaksanakan negosiasi), HEAD (yaitu metoda atau teknik-teknik yang kita gunakan dalam melaksanakan negosiasi), HANDS (yaitu kebiasaan-kebiasaan dan sikap kita dalam melaksanakan perundingan yang semakin memperlihatkan jam terbang kita menuju keunggulan atau keahlian dalam bernegosiasi). 

Jadi, bahwasanya tidaklah cukup melaksanakan perundingan hanya menurut hal-hal formal, kebijakan dan prosedur, atau teknik-teknik dalam negosiasi. Justru kita perlu memakai ketiga komponen tersebut yaitu: karakter, metoda dan perilaku. 

Dalam banyak hal, perundingan justru tidak terselesaikan di meja perundingan atau meja rapat formal, tetapi justru dalam suasana yang lebih informal dan relaks, di mana kedua pihak berbicara dengan hati dan memanfaatkan sisi kemanusiaan pihak lainnya. Karena intinya selain hal-hal formal yang ada dalam proses negosiasi, setiap insan mempunyai keinginan, hasrat, perasaan, nilai-nilai dan keyakinan yang menjadi dasar bagi setiap langkah pengambilan keputusan yang dilakukannya.
 
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Negosiasi menuntut kemampuan komunikasi yang memadai. Ini menerangkan betapa komunikasi dengan pihak lain merupakan syarat utama yang sanggup menunjang keberhasilan kita di masa depan. Kita semua yaitu negoisiator yang selalu melaksanakan negoisiasi setiap hari. Hanya saja, kita tidak sadar, jikalau kita sedang melaksanakan suatu negoisasi. Negosiasi tidaklah untuk mencari pemenang dan pecundang dalam setiap perundingan terdapat kesempatan untuk memakai kemampuan sosial dan komunikasi efektif dan kreatif untuk membawa kedua belah pihak ke arah hasil yang positif bagi kepentingan bersama. [Ron Ludlow & Fergus Panton 2000 : 141 – 142] alasannya yaitu intinya sebuah negoisasi yaitu sebuah janji diantara orang-orang yang melaksanakan negoisasi. 

Kemampuan bernegoisasi sangat dibutuhkan berakal balig cukup akal ini, alasannya yaitu setiap acara membuthkan negoisasi. Kita selalu melaksanakan negoisasi kepada orang tua, kakak, adik, anak, suami, istri, teman, kerabat bahkan negoisasi terhadap diri sendiri kerap kita lakukan. Orang-orang yang selalu melaksanakan negoisasi yaitu cerdas. Mengapa? Karena dalam negoisasi terdapat janji yang menghasilkan keputusan dan keputusan itu yaitu hal yang menyangkut dengan kepentingan diri sendiri yang mengambil sebuah resiko dan mengharapkan laba tertentu. Untuk itu, latihlah diri pembaca untuk selalu bernegoisasi.

ini hadir didepan pembaca sekalian bermaksud untuk memperjelas cara bernegoisasi yang kita lakukan dan mengarahkannya kepada sebuah tindakan bisnis. Namun, intinya pembahasan dari awal hingga simpulan sangatlah fleksibel penggunaannya dalam bernegoisasi. Semoga makalah ini sanggup bermanfaat bagi kita semua...Amin...


DAFTAR PUSTAKA

Sastromatmodjo, Sudijono. “Komunikasi Bisnis”, Semarang : IKIP Semarang, 1995
http://komunikasibisnis.blogspot.com

http://www.ebizzasia.com

http://purnawan-kristanto.blogspot.com 
 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel